| by admin | No comments

Harga Bioethanol Lebih Mahal dari Energi Fosil

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pengembangan energi ramah lingkungan jenis bioethanol/E2 yang diujicobakan dengan menggunakan tanaman tebu untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) kini masih terkendala.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan saat ini penggunaan bioethanol setelah diujicoba masih lebih mahal dibandingkan dengan energi fosil.

“Ternyata harga ethanol masih lebih mahal dari pertamax dan Pertamina belum mau,” kata Rida, di kantornya, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 8 Januari 2019.

Oleh karenanya pemerintah belum melanjutkan pengembangannya. Sebab masyarakat tentu akan menanggung harga yang lebih tinggi. Apalagi saat ini belum ada insentif yang diberikan pemerintah terhadap bioethanol.

Dia bilang karena bahan bakunya berasal dari tebu, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) juga tidak bisa memberikan insentif. Sebab, dana yang terkumpul dan dikelola lembaga tersebut berasal dari para petani dan pengusaha sawit.

“Karena insentif pemerintah dari enggak ada sebab enggak mau membebani APBN, jadi pilihannya dilewati. Praktis E2 tidak berjalan,” tutup Rida.

(ABD)